"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu"
-QS. Al-Baqarah [2] : 147-
Tampilkan postingan dengan label Mu'amalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mu'amalah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 April 2012

KHUTBAH 'IDUL FITRI 1 SYAWWAL 1429 H

Oleh : al-Ustadz KH. I. Shodikin
Al-Hamdulillah bi’izzatihi ya’tazzul-mu’minuun wa bi’inaayatihi wa taufiiqihi yahtadidh-dhaal-luun. Asyhadu an laa ilaaha illal-laahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluhu. Amma ba’du.

Para musyawirin yang kami hormati…
Al-Hamdulillah pada saat ini kita kembali bermusyawarah untuk melihat masa yang telah berlalu, masa yang kita alami sekarang dan merencanakan serta mengharapkan rencana kerja pada masa yang akan dating, agar senantiasa berkesinambungan dalam kebaikan dan keshalehan.

Sebagaimana telah kita ma’lumi, baik secara pribadi atau ijtima’i manusia mengalami masa lalu, sedang dan akan datang.

Masa lalu, suka dukanya tidak dapat diulang, sedang yang akan datang masih gelap. Namun kita merasa senang karena ada harapan yang baik di masa depan. Dan mungkin orang akan putus asa melihat apabila melihat masa depan yang gelap dan sepi dari harapan yang baik. Karenanya, masa yang sedang kita alami wajib kita hadapi dengan seksama dan penuh perhatian. Kesempatan yang tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa amal shaleh dan usaha yang bermanfaat. Kesempatan untuk menanam harapan baik yang akan menerangi masa depan saat memetik hasil dari tanaman yang lalu.

Biarkanlah suka duka di masa lalu berlalu, menghilang ditelan zaman. Mintalah ampunan bila bersalah, jadikanlah pengalaman yang pahitnya sebagai penawar penyegar badan, sebagai pelajaran yang baik, namun jangan diulang.

Masa yang akan datang sifatnya ghaib, hanya dapat diprakirakan dan diusahakan agar sesuai dengan apa yang kita harapkan, ibarat benih tanaman yang sudah disebarkan. Karenanya, perasaan tidak enak makan dan tidur akan teralami, karena khawatir akan teralami sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan. Oleh karena itu berusahalah, sebab qadar dan hak yang akan diterima, apakah yang baik atau yang buruk, tidak akan jauh dari jumlah kewajiban yang telah dilakukan dan yang telah terselesaikan.

Hari ini adalah saat yang kita ada padanya. Hari ini adalah hari kita, masa lalu akan berubah menjadi hari-hari yang terang, jika hari ini kita isikan amal perbuatan yang baik. Dan masa yang akan datang akan menyinarkan harapan yang baik, apabila kita menanam pada hari ini sesuatu yang baik.

Musyawirin yang kami hormati…
Barang yang hilang ada harapan untuk mendapatkan gantinya, uang yang tidak dipakai akan merupakan tabungan yang jumlahnya akan bertambah banyak. Akan tetapi, hari dan waktu yang ditelan masa tanpa diisi dengan amal yang bermanfaat, tidak akan ada gantinya, tidak menjadi tabungan yang akan bertambah seperti tabungan uang.

Matahari dan benda-benda langit lainnya akan terus berputar dan beredar sesuai dengan sunnatullah. Masa yang beredar dan berputar senantiasa tepat dan tidak berkhianat. Yang ada adalah pemakai atau yang mengisi masa tersebut yang tidak selalu sama. Ada kalanya salah dan ada kalanya shaleh.

Jumlah harta yang dimiliki, jumlah ilmu yang dikuasai bisa berbeda bagi setiap orang, namun waktu, semua manusia dibagi rata, tidak ada perbedaan, sehari semalam dua puluh empat jam. Hanya jumlah waktu yang sama untuk semua manusia belum tentu sama bagi setiap manusia dalam menggunkan dan memanfaatkannya.

Jagalah diri dari segala sesuatu yang arahnya pada keburukan. Jauhkanlah diri dari sebab dan perangkap yang mengandung kema’siatan. Yang mendekati api akan terasa panas, yang mendekati air akan terasa dingin dan yang mendekati kema’siatan meskipun tidak melakukannya akhirnya akan tertarik atau terbawa arus ma’siat.

Untuk menghadapi masa yang akan datang berusahalah agar dapat menempatkan diri di dalam lingkungan taqwa, agar diri kita jauh dari kesalahan dan kekeliruan seperti jauhnya timur dan barat. Artinya mesti berlainan arah, sebab yang mengarahkan diri ke arah taqwa tidak akan menemui titik ma’siat. Yang bergembira dengan kebaikan tidak akan bergembira dengan sebab kedzliman dan kema’siatan. Oleh karenanya, kita senantiasa berdu’a :
Allahhuma baa’id baynii wa bayna khathaa yaa ya kamaa baa’ad ta baynal masyriqi wal maghrib (Ya Allah,jauhkanlah diriki dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan timur dari barat)
Itulah permohonan agar masa yang akan datang senantiasa terang penuh dengan harapan-harapan baik, mendapatkan jalan yang rata dan tidak banyak duri. Selanjutnya kita dianjurkan agar senantias berdu’a :
Allahumma-ghsilnii min khathaa yaa ya bits-tsalji wal-maa-i wal-baradi (Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan embun)
Hal ini sesuai dengan tiga pemohonan ummat agar diberi ampunan, rahmat dan maaf.

Musyawirin yang kami hormati…
Cinta dan benci adalah penggerak amal, pendorong untuk menentukan sikap dan perbuatan yang akan kita lakukan. Dengan cinta dan suka, manusia bergerak dan berusaha agar yang dicintainya itu dapat dimiliki atau dirasakan. Dan dengan benci, manusia akan berusaha agar terhindar dari segala sesuatu yang tidak disukainya.

Tanpa cinta dan benci manusia akan kesepian, kehilangan kesibukan dan akan merasa wujudnya di dunia tidak ada artinya. Cinta dan benci bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, kehadirannya akan tergugah oleh sesuatu yang lain, baik yang terdengar atau yang terlihat. Namun sesuatu yang dilihat atau didengar, demikian ilmu yang dimilikinya, adakalanya palsu. Karenanya cinta dan benci yang timbul akan diletakkan bukan pada tempatnya. Oleh karenanya yang menolong disangka akan menyolong, sebab mendengar tuhmah. Ibarat obat yang dibuang karena disangka racun.

Oleh karenanya cinta dan benci mesti disandarkan kepada yang baik dan hakiki; Al-Hubbu fil-laah wal bughdhu fil-laah (cinta karena Allah dan benci karena Allah). Cinta dan benci akan sesuatu jangan ditunggu atau dibiarkan datang dan diterima tanpa diperiksa terlebih dahulu kebenarannya. Kita wajib berusaha untuk mendatangakan cinta dan benci yang tepat pada tempatnya, cinta kepada kebenaran dan benci kepada kebathilan.

Orang yang melakukan kebaikan belum tentu beramal shaleh, sebab nilai dari sesuatu amal tidak akan terlepas daripada niat yang membangkitkan kemauan dan menggugah perasaan.

Orang yang mati dalam peperangan belum tentu mati syahid. Sebagaimana orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah, sehingga ketika sampai di Madinah dia mendapat julukan  Muhajir Ummu Qais. Tidak semua yang lahirnya baik adalah beramal shaleh.

Karenanya jelas sekali bahwa jarum hati harus diluruskan terlebih dahulu sebelum merencanakan atau mewujudkan sesuatu. Jangan ditunggu lurus tetapi mesti diusahakan. Iradat yang kuat berdasarkan panggilan iman dan keyakinan akan beralih menjadi niat yang kuat dan bulat. Dan niat seperti ini akan melahirkan kekuatan lahir bathin yang sangat besar.

Akhirnya, sudahkan kita siap meniadakan diri untuk mewujudkan sesuatu, hal ini sesuai dengan kaidah Lima, Liman, Kaifa?

Aquuku qaulii haadza wa astaghfirul-laaha lii wa lakum. Was-salaamu ‘alaikum wa rahmatul-laahi wa barakaatuhu.

Senin, 26 Maret 2012

MENJADI MANUSIA MU’AFAN*

Oleh : al-Ustadz KH. I. Shodikin 

Rasulullah SAW banyak menggunakan bahasa Arab secara urfi (adat dan kebiasaan). Para sahabat pun memahaminya, tetapi dalam beberapa kesempatan lain kadang mereka tidak memahami bahasa Arab yang diungkapkan Rasulullah SAW. Seperti halnya orang Sunda yang mengerti bahasa Sunda, tetapi ketika mendengar ungkapan dalam bahasa Sunda banyak yang tidak memahami ungkapan itu padahal, sama diungkapkan dengan bahasa Sunda.

Pada suatu kesempatan Rasulullah SAW mengungkapkan salah satu firman Allah SWT, Innaladzina 'amanu walam yalbisu imanahum bidzulmin (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mereka tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kedzaliman). Para sahabat bertanya, “Bila demikian, siapa di antara kami yang tidak pernah dzalim?”. Dalam arti mereka memahami dzalim berdasarkan urfi. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa yang dimaksud dzalim pada ayat tersebut adalah Syirik. Ternyata penggunaan istilah semacam ini belum menjadi baku dan berlaku di kalangan orang-orang Arab.

Pada suatu saat Rasulullah SAW mengungkapkan kata-kata yadun (tangan). Dalam arti urfi adalah salah satu anggota badan, tetapi ketika sudah menjadi ungkapan tentu akan menjadi berbeda penggunaannya.
Rasulullah ditanya oleh istri-istrinya, “Siapa di antara kami yang paling dahulu wafat setelah engkau?” Rasul menjawab, Athwalu kunna yadan (yang paling panjang tangan di antara kalian). Ketika Rasulullah wafat, istri-istri beliau berkumpul saling megukur siapa di antara mereka yang paling panjang tangan, ternyata Siti Saodah. Tetapi pada kenyataannya yang paling dahulu wafat adalah Zainab binti Jahsyi. Barulah mereka paham bahwa panjang tangan yang dimaksud Rasulullah adalah yang paling banyak shadaqah, bukan secara urfi.

Kemudian  dalam satu kesempatan Nabi menggunakan kata mayyitun, tetapi dalam kesempatan lain beliau menggunakan kata mayitatun, padahal kejadiannya sama, yaitu peristiwa kematian yang menimpa makhluk hidup. Hal ini dikarenakan mayitatun digunakan secara mutlak yaitu untuk hayawanaat (makhluk hidup), tetapi mayyitun digunakan untuk manusia. Meskipun manusia termasuk jenis hayawanat, tetapi jelas bahwa manusia tidak sama dengan hayawanat secara mutlak.

Pada suatu saat ada ungkapan yang berbeda, dalam al-Quran sering diungkapkan kata-kata Yaa Ayyuhan Naas, apakah akan berubah ungkapan Nas ketika diungkapkan dua kali -Yaa Ayyuhan Nasnas-?. Kalau Yaa Ayyuhan Nas dalam al-Quran adalah wahai manusia, tetapi abila diungkapkan dengan Yaa Ayyuhan Nasnas maka sungguh akan berubah, seperti dalam ungkapan dikatakan Dzahaban nas wa baqiya nasnas (apabila manusia sudah hilang sifat kemanusiaannya, maka yang tersisa merupakan orangutan yang seperti manusia atau manusia yang seperti orang hutan). Barangkali ini perbedaan antara Yaa Ayyuhan Nas dan Yaa Ayyuhan Nasnas.

Pada suatu hari keranda jenazah yang diusung menuju Baqi  (tempat pemakaman umum) lewat di depan Rasulullah. Beliau berkata pada para sahabat : Ada dua kemungkinan mayit ini, apakah dia mustariihun atau mungkin mustaraahun minhu. Pada saat itu para sahabat merasa heran dan bertanya, Maa mustariihun wa maa mustaraahu minhu? (Apa yang dimaksud dengan mustariihun dan mustaraahu minhu?) Rasulullah menjawab : “Hamba yang mu'min lagi taqwa abila mengalami al-Mautu (kematian) mereka itu akan mustariihun (beristirahat) dari kelelahan, keletihan, dan kepenatan dunia. Sedangkan hamba yang durhaka, maka yang istirahat bukan dia, tetapi mustaraahu minhu, yaitu manusia-manusia di sekitarnya yang istirahat bahkan lingkungan, pepohonan serta hewan-hewan pun istirahat dari gangguan dia”.

Maka sabda Rasulullah SAW di atas, hakikatnya bukan memberitahu sebatas kabar kepada para sahabat tetapi terkandung makna insya'i (satu sisi berupa berita dan sisi yang lain berupa larangan). Kuunuu mustariihan walaa takunuu mustaraahan minhu (jadilah engkau pribadi yang mustariih jangan menjadi pribadi yang mustaraah minhu). Sebab bagaimanapun akan timbul akibat-akibat selanjutnya, karena pada hakikatnya kematian manusia bukanlah merupakan akhir dari kehidupan tetapi hanya istirahat sementara, untuk melanjutkan kehidupan berikutnya.

Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa pada suatu saat ada yang hanya sekedar mu'min tetapi ada juga yang lebih daripada itu, al-mu'minu taqiyu (mu'min lagi taqwa). Hal ini barangkali dapat kita pahami, al-Quran sendiri diungkapkan sebagai hudan (petunjuk), bukan lilmu'minin tetapi hudan lilmuttaqiin. Dalam ayat lain diterangkan, innama yataqobbalullahu minal muttaqiin, bukan minal mu'minin. Apabila demikian ternyata yang dimaksud dengan ahlun-nar (ahli neraka) bukanlah orang-orang kufur, meskipun kita sering berprasangka bahwa yang dimaksud dengan ahlun-nar itu adalah mereka, padahal justru ahlun-nar itu adalah orang-orang mu'min.

Oleh karenanya, Rasulullah SAW pernah menyatakan, seluruh umatku akan mendapatkan afwun (ampunan) Allah, kecuali mereka yang berprilaku mujaharah (mereka yang secara terang-terangan melakukan perbuatan ma'shiyat).

Suatu saat orang tidak malu lagi melakukan perbuatan ma'shiyat bahkan tidak mustahil merasa bangga. Hal seperti inilah yang dimaksud oleh Allah dan Rasul-Nya, Almujaharah itu ialah seseorang melakukan suatu perbuatan yang buruk pada malam hari -yang perbuatan itu ditutupi oleh Allah- tetapi pada pagi harinya justru dia sendiri yang menyebarluaskan, membuka aib sendiri, “Malam tadi saya mencuri ayam” atau ungkapan yang lainnya.

Memang ada tiga perkara untuk menghapus dosa, pertama dengan taubat, kedua dengan istighfar tetapi ketiga ada karunia Allah berupa afwun, yaitu tanpa amal shaleh, Allah langsung yang menurunkan karunia-Nya dan itulah yang dimaksud firman Allah, “Seperti pada waktu di dunia Aku menutupi perbuatan itu maka pada hari ini Aku akan mengampuni perbuatan itu.” Tetapi dalam hal ini Ibnu Bathal mengatakan, kenapa Aljahru fi ma'shiyati (terang-terangan melakukan perbuatan ma'shiyat) tidak akan mendapatkan afwun dari Allah? Karena mereka menganggap enteng akan hak Allah, hak Rasul, dan termasuk pelecehan kepada pribadi-pribadi mu'min yang shaleh.
Maka kesimpulan di atas jelas bahwa pelanggaran yang dilakukan pribadi mu'min itu ada dua macam : pertama, pelanggaran yang langsung dengan Allah, kedua pelanggaran dengan sesama manusia.

Pelanggaran dengan Allah besar harapan akan dimaafkan, tetapi pelanggaran dengan sesama manusia inilah yang perlu kita perhatikan.

Apabila pelanggaran dengan sesama manusia tidak pernah ditahalulkan di dunia, maka pasti akan terbawa di akhirat dan inilah yang akan terjadi qishos (balasan-balasan) dari perbuatan yang buruk itu.

Mudah-mudahan kita termasuk pribadi-pribadi yang mu'aafan (pemaaf) seandainya kita melakukan kesalahan-kesalahan tertentu.

*sumber : http://www.pajagalan.com/2007/08/menjadi-pribadi-muaafan.html

KHUTBAH SHALAT GERHANA MATAHARI

Oleh : al-Ustadz KH. I. Shodikin*


Allahu akbar.. Allahu akbar.. wa lillahil-hamd..

Hadirin yang dimuliakan Allah SWT..
Untuk kesekian kalinya kita mengalami, memperhatikan, menyaksikan salah satu dari sekian jumlah kekuasaan Allah SWT. Allah SWT memperlihatkan aayatun min ayaatii (ayat-ayat kekuasaan-Nya) yang hanya sebagian kecil dari sejumlah banyak tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Hahikatnya merupakan peringatan kepada manusia yang maha kecil, yang hakikatnya manusia tidak ada apa-apanya. Apabila makhluk-makhluk yang di langit secara fisik begitu hebat, begitu besar serta taat dan tunduk kepada hukum alam, taat dan tunduk kepada sunnatullah, sehingga pada suatu saat terjadilah kejadian yang disebut khusuf (gerhana). Maka hahikatnya, seperti itulah pada suatu saat tidak mustahil manusia pun akan mengalami kegelapan, akan mengalami khusuf, seperti gelapnya matahari, gelapnya bulan, seperti gelapnya bumi. Namun biarlah matahari dan bulan termasuk bumi yang mengalami khusuf, asalkan jangan hati-hati manusia yang mengalami gerhana, yang mengalami kegelapan. Kenapa demikian? Dapat kita bayangkan, apabila hati-hati manusia sudah gelap, apalah kiranya yang terjadi pada satu lingkungan yang di diami oleh manusia? Oleh karenanya, pada satu kesempatan Jibril secara pribadi berdialog dengan Rasulullah SAW, yang tentu pada hakikatnya hal ini adalah merupakan peringatan kepada diri kita masing-masing.

Jibril berkata : “Yaa muhammad, isy maa syi’ta (Wahai Muhammad, silahkan engkau hidup sekehendakmu, hidup bebas tanpa batas, hidup tanpa aturan dan ketentuan), tetapi ingatlah hakikatnya tidak ada manusia yang abadi, tidak ada manusia yang hidup kekal, fainnaka mayyitun (sungguh engkau akan mengalami proses kematian)”. Maka oleh karenanya sebagaimana yang kita maklumi, bahwa beda antara manusia dengan hewan secara mutlak, sehingga ada orang yang mengungkapkan, apabila hewan secara mutlak mengalami kematian bakal bilatungan (akan belatungan), tetapi manusia kalau mengalami kematian bakal nyanghareup balitungan (akan menghadapi hisab/perhitungan). Dalam arti, ingat bahwa manusia diwujudkan tidak abatsan (sia-sia), ada maksud dan tujuan tertentu.

Suatu saat, hasil dari pada perjalanan hidup yang relatif sebentar, justru inilah yang sebentar itu yang akan menentukan kelanggengan hidup di sana, kelanggengan hidup di yaumil akhir, apakah kenikmatan yang langgeng atau kebalikannya, kesengsaraan yang langgeng?

Jibril berkata kemabali : “Wa ahbib maa syi’ta (silahkan kau cintai siapa dan apa saja), tetapi ingat fainnaka mufaariquhu (sungguh akan berpisah)”. Mau mencintai istri, suatu saat mufaariquhu, mencintai suami, suatu saat mufaariquhu, mencintai anak, suatu saat mufaariquhu, akan berpisah antara yang mencintai dengan yang dicintai.

Makanya wajar apabila Rasulullah SAW pernah menyatakan, apabila manusia mengalami al-mautu, maka yatba’ul-mayyita tsalaatsatun, ada tiga perkara yang akan mengikuti mayyit dengan kematiannya itu. Yang pertama ahluhu (keluarganya) wa maaluhu (hartanya) wa ‘amaluhu (dan amalnya), yarji’u minhu-tsnaani (namun yang dua tidak turut ikut, yang dua akan kembali lagi). Yang mana yang tidak mau ikut itu? Maalhu wa ahluhu (harta dan keluarganya), yang tetap setia adalah ‘amaluhu (amalnya), yatba’uhu amaluhu. Yang menjadi masalah, amal yang mana, apakah yang termasuk pernyataan faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarahu atau faman ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarahu?

Dalam kesempatan khutbah khusuf, Rasulullah SAW secara khusus meminta perhatian kepada kaum perempuan, sehingga beliau secara khusus menyatakan : Yaa ma’syaran-nisaa (wahai kaum perempuan), ittaqinnal-laah (hendaklah kalian benar-benar bertaqwa kepada Allah), fainni uriitukunna (karena sungguh diperlihatkan kalian kepadaku), aktsara ahlin-naar (paling banyak pengisi neraka). Waktu itu ada sahabat yang merasa heran : “Ya Rasulullah kenapa mereka itu termasuk yang paling banyak masuk neraka?, Ayakfurna? (apakah mereka itu kufur?), Rasul menjawab : “Benar”. Para sahabat bertanya kembali, ayakfurna billahi? (apakah mereka kufur kepada Allah?), Rasul menjawab : “Bukan”, yakfurnal-‘asyiira wa yakfurnal-ihsaan (mereka mengkufuri suaminya dan mengkufuri perbuatan baik). Sahabat bertanya kembali : “Ya Rasulullah, bagaiman mereka mengkufuri kepada suami, bagaimana gerangan mereka mengkufuri kepada perbuatan baik? Rasul dengan tegas menyatakan, idzaa ahsanta (apabila kamu berbuat baik), ilaa ihdahunna ad-dahra (selama masa yang lama, masa yang panjang kepada salah seorang di antara mereka), tsumma ra-at syaian (kemudian dia melihat sesuatu dari dirimu yang tidak berkenan di hatinya, yang tidak sejalan dengan kemauannya), tiba-tiba timbul suatu pernyataan, maa ra-aitu minka khairan qaththu (aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun dari dirimu). Inilah yang dimaksud yakfurnal-‘asyiira wa yakfurnal-ihsaan.

Hadirin yang dimuliakan Allah SWT..
Maka tentu hal itu bukan ditujukan kepada kaum perempuan, tetapi tentu termasuk kepada kita kaum laki-laki. Hanya konotasinya adalah jangan sekali-kali menghapus kebaikan orang, namun demikianlah kenyataannya dalam kehidupan di suatu lingkungan, sewaktu-waktu timbul ungkapan-ungkapan yang seperti itu. Maka wajar apabila Rasulullah SAW mengingatkan segerakan, wa atbi’is-sayyiatal-hasanata (ikutkan perbuatan yang buruk itu dengan perbuatan yang baik), tanhuuhaa (agar perbuatan yang baik itu bisa menutupi perbuatan-perbuatan yang tidak baik).

Hadirin yang dimuliakan Allah SWT..
Maka mudah-mudahan peristiwa gerhana yang kesekian kali yang kita alami pada saat ini akan menjadikan penggugah bagi diri kita masing-masing. Semoga Allah memberikan limpahan maghfirah dan rahmat-Nya kepada diri kita masing-masing.

* disarikan kembali oleh Ramdhan Setiansyah

Minggu, 25 Maret 2012

KEADILAN MEMBASMI KEBATHILAN

Oleh : al-Ustadz KH. I. Shodikin*

Khalifah Umar pernah menerima surat dari seseorang yang merasa diperlakukan tidak adil oleh amir (pemimpin) yang diberi wewenang di Mesir. Sekalipun orang itu awam, umurnya sudah lanjut, miskin dan tidak mempunyai kawan yang berpengaruh di negeri itu, tetapi suaranya tetap didengar, suratnya mendapat perhatian dan tanggapan, serta masalahnya terselesaikan.

Orang tua itu mengadu kepada Khalifah bahwa rumahnya dibongkar dan tanahnya yang hanya beberapa meter itu diambil untuk pelebaran masjid di tempat itu.

Tidak lama setelah surat itu dikirim kepada Umar di Madinah, orang tua itu melihat beberapa pengawal dan kuli bersiap-siap membongkar kembali masjid yang sudah selesai dibangun. Ketika ditanyakan, orang tua itu mendapat jawaban dari mereka, bahwa Amir di Mesir telah menerima perintah dari Khalifah Umar agar tanah rampasan yang luasnya hanya beberapa meter itu segera dikembalikan kepada pemiliknya dan dibangun kembali sebuah rumah sebagai penggantinya.

Tatkala orang tua itu mendengar bahwa Khalifah Umar sudah memerintahkan Amir untuk mengembalikan tanah miliknya, dia berkata kepada mereka bahwa hatinya lega dengan berlakunya keadilan dan terjaminnya milik seseorang. Pada detik itu pula orang tua itu menyerahkan tanahnya untuk diwakafkan kepada masjid. Dan bangunan masjid itu tidak jadi dibongkar karena orang tua itu tidak memerlukan tanah, tetapi membutuhkan keadilan.

Hal lainnya terjadi pada masa keKhalifahan Ali bin Abi Thalib. Khalifah Ali melaporkan ke pengadilan bahwa baju besi miliknya hilang, dan kini ternyata baju itu dimiliki oleh seseorang dari golongan Nashrani.

Khalifah Ali dan tertuduh dipanggil oleh hakim pengadilan dan mereka duduk pada tempat yang sama. Tidak ada perbedaan antar rakyat biasa dan Khalifah, karena mereka sedang berhadapan dengan undang-undang. Sayyidina Ali tidak mau dipanggil dengan gelar kehormatannya, Aba Husein beliau minta dipanggil dengan nama Ali saja.

Tertuduh menyatakan bahwa baju besi itu miliknya : Lam abi’ wa lam ahab (Aku tidak akan menjualnya dan tidak akan memberikannya).

Ketika itu yang bertindak sebagai Qadli (hakim) ialah Syuriah. Dan Syuriah meminta supaya Sayyidina Ali memberikan keterangan untuk membuktikan bahwa baju besi itu miliknya. Sayyidina Ali mengusulkan agar Qamabar dan puteranya untuk menjadi saksi bahwa baju besi itu miliknya. Tapi Qadli menolaknya karena Qamabar adalah pembantu yang sangat cinta kepada Ali dan saksi kedua adalah puteranya sendiri, hal itu tidak akan menjamin keadilan dalam kesaksiannya, kemungkinan akan berat sebelah. Tatkala Ali diminta untuk mendatangkan saksi lain, Ali tidak bisa menghadirkannya.

Akhirnya Qadli pun mengetuk palunya tanda keputusan telah diambil bahwa baju besi itu bukan milik Ali dan tertuduh dibebaskan dari tuduhannya.

Tatkala keputusan itu diterima oleh Sayyidina Ali dengan baik, maka lawannya spontan menyatakan kepuasan hatinya, dan dia berkata : “Bila Islam itu demikian keadilannya, maka saya menyatakan Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah, dan saya serahkan baju besi ini kepada pemiliknya, Khalifah Ali. Saya pungut baju besi ini ketika Sayyidina Ali pergi ke medan perang dan baju itu terjatuh dari kendaraan beliau lalu saya memungutnya.

Kejadian lain, pada masa Umar bin Abdul Aziz. Tatkala Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khalifah dan diamanati memimpin kekuasaan, beliau melihat kenyataan-kenyataan yang harus dihadapi. Yang terberat ialah perpecahan di kalangan ummat. Fanatisme kesukuan dan golongan, serta perebutan kekuasaan telah mengesampingkan keadilan. Setiap yang dibenci pasti salah. Golongan sendiri pasti benar dan keturunanku tidak mungkin bersalah. Yang kuat pasti benar dan yang lemah pasti salah dan kalah. Kesalahan orang lain dicari dan kebaikannya dicatat, untuk merendahkan dan menanamkan rasa benci terhadap mereka yang dibenci, bila kebetulan mereka itu di luar golongan atau tidak seketurunan.

Sehubungan dengan itulah Allah SWT mengingatkan orang-orang beriman dengan firman-Nya :
“Yaa ayyuhannaasu inna khalaqnaakum min dzakarin wa untsaa wa ja’alnaakum syu’uuban wa qabaaila lita’aarafuu inna akramakum ‘inda atqaakum innal-laaha ‘aliimun khabiirun”
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Hujurat [49] : 13)

Oleh karenanya untuk mengatasi kenyataan pahit tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar ayat ke 90 QS. an-Nahl dikaji kembali, maknanya disarikan dan maksudnya diamalkan.
“Innal-laaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsaani wa iitaaii dzil-qurbaa wa yanhaa ‘anil-fahsyaai wal-munkari wal-baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkarun”
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Setiap kali khutbah Jum’at ayat tersebut dibacakan dan diterangkan bahkan hingga kini masih ada sebagian khatib yang membacakan ayat tersebut pada akhir khutbahnya.

Mengapa ayat itu yang dipilih dijadikan obat untuk mengatasi kekacauan-kekacauan? Sebab pada ayat tersebut dianjurkan agar masing-masing berbuat adil dan hukumnya wajib memberikan dan membantu agar ketentuan undang-undang syari’at dapat berlaku dengan sempurna, sekalipun hal itu merugikan dirinya. Berani mengatakan benar, sekalipun menguntungkan pihak lawan. Menyerahkan dan mengamankan hak orang lain meskipun barang itu sangat diperlukan oleh dirinya.

Khalifah behasil menanamkan kembali rasa takut di kalangan ummat untuk melanggar undang-undang karena ternyata beliau bertangan besi tanpa pilih bulu. Sekuat-kuatnya orang pasti kalah menyerah dengan hak dan kebenaran.

Apabila ihsan telah merata, maka dzawilqurba, family, kenalan dan jiran akan merasakan kenikmatan hak yang diterima dan kewajiban yang dipenuhi. Tidak sia-sia bapakmencintai anaknya. Sebab anakpun menyerahkan hak orang tua, tidak akan terjadi ada anak yang dibuang oleh orang tuanya dan atau orang tua yang dibuang dan diusir oleh anak-anaknya. Adik menghormati kakaknya karena diapun merasakan kenikmatan persaudaraan yang ia terima dari kakaknya. Jerih payah seorang suami dan istri tidaklah sia-sia sebab masing-masing menerima haknya.

Setelah keadilan, ihsan dan hubungan baik berlaku, baru kita dapat membasmi ke¬bathil¬an melenyapkan kejahatan yang merugikan orang lain dan merendahkan martabat dirinya sendiri. Dan yang terakhir hilang nafsu untuk melakukan kejahatan dan pelanggaran.

Itulah nasihat Allah SWT agar manusia senantiasa ingat siapa dia, untuk apa diciptakan dengan dilengkapi oleh akal dan agama.

Adapun kandungan dari ayat di atas tadi, sesungguhnya manusia senantiasa agar : Berlaku adil, berlaku ihsan dalam perbuatan dan melakukan perbuatan yang sempurna, menyerahkan apa yang harus diserahkan kepada orang lain. Dan Allah SWT melarang :  Melakukan kejahatan yang merugikan orang lain, melakukan kemungkaran dan berkhianat kepada ilmu dan iman sendiri, serta jangan ada gerak nafsu buruk dalam bathin dan hindarkanlah kemauan untuk melakukan kejahatan. 

* disarikan kembali oleh Ibnul Chotib

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More