"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu"
-QS. Al-Baqarah [2] : 147-
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Maret 2012

MACAM-MACAM MAKHLUK ALLAH

Oleh : al-Ustadz KH. I. Shodikin*

Sudah kita maklumi bersama, bahwa mahluk Allah itu bermacam-macam. Ada yang disebut Jamaadat, nabatat, jinnat dan hayawanat. Diantara mahluk-mahluk Allah itu ada yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan mahluk-mahluk yang lain.

1. Jamaadaat
Mahluk ini disebut jamadaat karena mahluk ini tidak bisa hidup, bergerak, menetap dalam satu tempat, karena lafadz jamadat diambil dari kata jamid yang artinya diam, oleh karena itu mahluk ini bisa disebut juga benda mati. Kenapa disebut mahluk Allah karena sama-sama diciptakan oleh Allah.

2. Nabatat
Mahluk ini disebut nabatat, karena dia itu hidup akan tetapi tidak aktif, salah satu ciri bahwa mahluk ini hidup, ia bisa tumbuh yang tadinya bibit menjadi besar Cuma tidak bisa bergerak secara aktif saja, oleh karena itu mahluk ini suka dikenal dengan ungkapan nabati.

3. Jinnat
Mahluk ini disebut jinnat karena dia tidak bisa dilihat oleh panca indra, karena lafadz jinnat pecahan dari kata jinnun yang memiliki arti terhalang atau tertutup. Diantara mahluk yang termasuk kedalam kelompok ini ialah para malaikat, iblis, dan jin, oleh karena itu kalau ada yang mengatakan bisa melihat mahluk ini bohong besar, karena akan bertentangan dengan du'a Nabi Sulaiman yang berbunyi :
وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لاَ يَنْبَغِيْ لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِيْ
Dan anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku. (QS. Shaad : 35)

Dan hadits Nabi yang berbunyi :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ  قَالَ: إِنَّ عِفْرِيتًا مِنْ الْجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي قَالَ رَوْحٌ فَرَدَّهُ خَاسِئًا
Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw bersabda : Sesungguhnya Ifrit itu termasuk golongan jin, ia menggangguku dengan kalimat yang salah supaya sholatku menjadi batal, jika Allah menghendaki aku bermaksud mengikatnya pada salah satu tiang masjid sampai pagi sehingga kamu sekalian bisa melihatnya, tapi aku ingat ucapan saudaraku Sulaiman yang berbunyi "Ya Tuhanku anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku". Rouh berkata : Kemudian Nabi melepaskannya. (al-Bukhari, Fathul-Baari : 2/218)
Artinya kedua dalil ini menjadi satu arahan tentang tidak mungkinnya seorang manusia bisa melihat jin apalagi bisa mengendalikannya. Makanya wajar imam Syafi'I mengatakan :
مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يَرَى الْجِنَّ أَبْطَلْنَا شَهَادَتَهُ، إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ نَبِيًّا
Barang siapa yang berkata sesungguhnya pernah melihat jin kami menganggap batal syahadatnya, kecuali Nabi. (Manaqib asy-Syafi'i, Fathul-Baari : 6/497)

4. Hayawanat 
Mahluk ini disebut hayawanat karena dia itu hidup bergerak secara aktif, yang termasuk kedalam mahluk ini ialah binatang dan manusia.

Perbedaan binatang dan manusia

Binatang

1. Mahluk ini menempati ruang dan waktu, akan tetapi tidak mengenal ruang dan waktu. Sebagai cirinya belum pernah ditemukan kalau domba mau kencing mencari dulu kamar mandi dan belum pernah terdengar ada ungkapan sarapan pagi, makan siang dan makan malam, makanya bagi domba tidak mengenal dalam kandang dan di luar kandang salah satu cirinya dia kencing disitu makan disitu, dan bagi domba dia makan itu bukan karena ingin tapi karena lapar, oleh karena itu dia hidup itu hanya untuk mati.

2.  Mahluk ini hanya mengandalkan fisik.

Manusia

1. Mahluk ini bukan hanya menempati ruang dan waktu, tapi mengenal juga ruang dan waktu.
Sebagai cirinya ketika dia mau mandi suka mencari tempat mandi, dan bagi manusia suka ada ungkapan sarapan pagi, makan pagi dan makan malam, bagi manusia ketika dia makan ternyata bukan karena lapar tapi karena ingin. Makanya bagi manusia dia hidup itu untuk hidup.

2. Mahluk ini ternyata tidak hanya sebatas pisik saja tetapi dia mengandalakan akalnya, makanya kalau hanya sebatas pisik saja dia akan kalah dengan bintang dan tidak bisa mempertahankan hidup. Oleh karena itu wajar kalau dalam al-Quran disebutkan
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْ ءَادَمَ
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (QS. al-Israa : 70)
Dengan akalnya manusia bisa menciptakan alat yang bisa mengalahkan kekuatan gajah, dengan akalnya manusia bisa menciptakan alat yang bisa mengalahkan kecepatan kuda, dengan akalnya pula manusia bisa menciptakan alat yang bisa menandingi terbangnya burung. Tapi akibat dari budidaya akal, manusia bisa akal-akalan, seperti terjadinya penindasan/penjajahan yang dilakukan kepada Negara kita pada waktu lalu, dikarnakan kita pada waktu itu belum mempergunakan akal kita sebagaimana mestinya, kita mau saja dibodoh-bodohi oleh penjajah, akan tetapi setelah kita mengfungsikan akal kita sebagaimana mestinya kita sanggup mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini.
Akan tetapi benarkah saat ini kita sudah bebas dari penajajah?, menerut hemat penulis sebetulnya kita belum bebas, karena kita masih saja mau terpengaruh oleh orang lain seperti halnya dalam budaya, etika, agama dsb. Perlu diketahui bahwa penjajahan sekarang itu bukan penjajahan secara pisik saja tetapi batinpun sekarang ikut dijajah, masih banyak orang yang tunduk patuh terhadap hawa nafsunya, masih banyak orang yang tunduk patuh terhadap bisikan Syaithan. Ternyata musuh kita kali ini ialah Syaithan-syaithan baik yang berbentuk manusia ataupun yang tidak kelihatan. Perlu diketahui juga bahwa diantara targetan Syaithan-syaithan yang berbentuk manusia untuk menjajah kita yang dikenal dengan 3 “F” dan 3 “S” nya. Film, fashion, food. Sex, sport dan song. Dengan 3 “F” dan 3 “S” inilah banyak sekali dikalangan muda-mudi kita yang berkiblat ke barat.

Oleh karena itu apakah bagi manusia hanya mengandalkan akalnya saja cukup? Tentu tidak, sebab akal tanpa ada yang mendidiknya akan salah menempatkan. Oleh karenanya wajar kalau seandainya Allah menjelaskan dalam al-Quran yang berbunyi :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (QS. al-Hujuraat : 13)
    
Dengan ungkapan ini menunjukkan bahwa pada diri manusia bukan hanya wujud fisiknya saja akan tetapi ada juga wujud ruhaninya. Oleh karena itu wajar kalau Allah mengutus seorang Rasul untuk mendidik ruhani kita, sebab ruhani yang terdidik oleh agama bisa mengendalikan akal kita fisik kita, makanya wajar dalam sebuah hadits disebutkan :
لاَيَزْنِي الزَّانِيْ حِيْنَ يَزْنِيْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
Seorang pezina tidak akan melakukan perzinahan selama keimanannya masih ada. (al-Bukhari, Fathul-Baari : 5/413)

* disarikan kembali oleh Ibnul Chotib

Jumat, 23 Maret 2012

KHUTBAH JUM'AT : MU'JIZAT YANG MELEMAHKAN

Oleh : al-Ustadz KH. I. Shodikin*

Di antara bahasa agama yang sudah populer di kalangan kita yaitu kata mu’jizat. Namun, ternyata sudah bergeser maknanya. Kalau terdengar kata-kata mu’jizat, maka yang terbayang adalah sesuatu yang aneh dan luar biasa. Ketika ada orang yang selamat dalam satu kecelakaan yang luar biasa, ia dikatakan “Ini adalah suatu mu’jizat”. Apakah seperti itu atau serendah itulah pengertian mu’jizat? Bahkan kita lihat akhir-akhir ini, ada film-film tertentu yang berjudul mu’jizat.

Menurut arti bahasa mu’jizat itu artinya melemahkan, mengalahkan yang seperti mu’jizat. Dalam arti, yang ini mu’jizat, yang terkalahkan bukan mu’jizat, tetapi sepintas lalu seperti mu’jizat. Justru dengan adanya mu’jizat adalah untuk membedakan di antara kepercayaan orang-orang banyak, yaitu yang disebut dengan sihir. Oleh karenanya tidak heran apabila kepada Nabi-nabi, mereka dituduh tukang sihir, yang dibawa oleh Nabi diungkapkan dengan kata-kata sihir, padahal jelas ada perbedaan yang mendasar antara mu’jizat dan sihir.

Sihir adalah la’ibun (permainan), oleh karenanya sihir itu bisa berulang kali dilakukan, kapan mau akan terjadi, di mana mau maka akan terjadi pada tempat dan waktu yang berbeda. Sedangkan mu’jizat tidak seperti itu, mu’jizat hanya terjadi satu kali, tidak lebih daripada itu. Dan inilah yang membedakan antara sihir dengan mu’jizat.

Oleh karenanya, ahli-ahli sihir mereka akan mengakui bahwa yang dibawa oleh Nabi itu bukan sihir, kenapa demikian? Karena apabila sihir, merekapun bisa melakukannya, karena sihir bisa dipelajari. Sedangkan ini mu’jizat, yang merupakan pemberian daripada Allah SWT sebagai bekal kepada para Nabi.

Kalau kita meneliti, memperhatikan sejarah mulai berkembangannya mu’jizat adalah sejak zaman Nabi Musa as. Saat itulah, di mana ketika berkembang orang begitu hebat menyenangi dan menyukai ilmu-ilmu sihir, maka diimbangi oleh Nabi Musa as. setelah kembalinya dari Madyan yang merupakan Negeri tertentu bukan di Mesir, meskipun Nabi Musa as. lahir di Mesir, tetapi Nabi Musa as. pernah keluar dari Mesir karena ada suatu kejadian yang luar biasa.

Sekembalinya dari Madyan lah Nabi Musa as. dinyatakan sebagai rasul, yukallimuhullah (yang langsung diajak dialog oleh Allah), maka banyak bekal-bekal yang diberikan kepada Nabi Musa as. oleh Allah SWT. Dan ketika sudah siap Allah SWT memerintahkan, idzhab anta wa akhuka bi-aayatii wa laa taniyaa fi dzikrii (pergilah engkau dengan saudara mu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan jangan engkau lalai untuk mengingat-Ku). Kenapa pada akhirnya, setelah ada perintah kemudian ada larangan? Biasanya ketika orang ada dalam kesenangan, keberuntungan, keunggulan, sewaktu-waktu dia lupa. Ketika membawa mu’jizat, rasanya lebih unggul dari yang lain. Nabi-pun secara tabiat manusia sama dengan manusia-manusia yang lainnya, ada kelemahan ada kekurangan, maka perlu diingatkan ...wa laa taniyaa fii dzikrii (janganlah engkau lalai untuk mengingat-Ku).

Sebagaimana yang kita maklumi, bahwa di Mesir ada dua latar belakar etnis yang berbeda, yang satu Qibti dan yang satu Bani Israil. Qibti / Egypt yang kemudian berkembang sebutan-sebutan itu adalah penduduk asli orang Mesir, sedangkan Bani Israil mereka baru datang ke Mesir setelah Nabi Yusuf as. masuk ke Mesir, ketika dia dijual-belikan dan dijadikan anak angkat oleh salah seorang terkemuka di Mesir. Sejak itulah kemudian berkembang keturunan Israil yang mendapat sebutan Bani Israil. Tetapi kenyataannya Bani Israil merupakan etnis yang mustad’afun (tertindas), sedangkan penduduk asli, orang-orang Qibti / Egypt mereka yang berkuasa, wajar karena rajanya adalah Fir’aun yang merupaka orang Qibti asli. Wajar pula apabila orang-orang Bani Israil dijadikan permainan oleh orang-orang Qibti. Jadi di sini kelihatan, Nabi Musa as. menghadapi dua masalah, yang satu menghadapi orang Qibti dengan pemimpin besarnya yang sudah melebihi batas yang mengakui, anaa rabbukumul-a’laa (saya Tuhan yang paling tinggi), dan satu sisi lagi menghadapi etnis yang sama yaitu Bani Israil. Maka Allah SWT memberikan tartib, siapa yang harus lebih dahulu dijadikan objek daripada dakwahnya, idzhab anta wa akhuka bi-aayati..., yang dimaksud adalah ilaa fir’auna, karena pada ayat berikutnya dinyatakan idzhab ilaa fir’auna wa innahu thaghaa.

Idzhab anta wa akhuka bi-aayatii... (pergilah engkau dengan saudara mu dengan membawa ayat-ayat-Ku...), di dalam al-Qur’an, apabila diungkapkan kata ayat, itu bisa mengandung dua pengertian, yang pertama dalam arti ayat kauniyah dan yang kedua ayat qauliyah. Yang dimaksud ayat kauniyah adalah yang berhubungan dengan hukum kejadian alam, bisa berarti mu’jizat. Sedangkan yang kedua ayat qauliyah, dalam arti isi risalah yang dibawa oleh para Nabi. Dua sisi inilah yang dibawa oleh Nabi Musa as. dan Nabi Harun as. kepada Fir’aun, juga kepada kaumnya kaum Qibti dan orang-orang Bani Israil.

Baarakallahu...

Mu’jizat yang diberikan kepada Nabi ternyata setiap saat berubah-ubah, sesuai keberadaan apa yang dialami dan yang terjadi pada ummat dalam satu masa. Kalau ketika pada zaman Nabi Musa as. begitu hebatnya orang mempelajari ilmu sihir, diimbangi oleh Allah SWT, Nabi Musa as. dibekali dengan mu’jizat yang seperti sihir. Namun, ketika terjadi kompetisi dengan ahli-ahli sihir yang mana mereka merupakan wakil daripada Fir’aun, setalah itulah, setelah dikemukakan mu’jizat oleh Nabi Musa as., ternyata saharatu fir’aun (ahli-ahli sihir fir’aun) mengakui bahwa ini bukan sihir. Mereka mengatakan, yang dibawa oleh Nabi Musa as. ini bukan sihir, sebab kalau sihir kamipun bisa mengikuti dan mempelajarinya. Oleh karenanya, mereka serempak menyatakan aamannaa bi rabbi musa (kami beriman kepada tuhan musa).

Kemudian setelah berganti masa, datang Nabi Isa as., di mana pada saat orang-orang sudah mulai mereka begitu hebat menyenangi yang berhubungan dengan ath-thibban (yang berhubungan dengan ilmu kedokteran), maka mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Isa as. pun disesuaikan dengan kondisi pada saat itu. Makanya kenapa disebutnya Isa al-Masih, tetapi tentu berbeda dengan al-Masihud-Dajjal. Kalau Isa al-Masih artinya Isa yang mengusap, tetapi al-Masihud-Dajjal ini adalah usapan Dajjal, dalam pengertian, kalau orang yang diusap oleh Nabi Isa as. yang sakit jadi sembuh, tetapi kalau yang diusap oleh Dajjal yang sembuh jadi sakit. Dan ternyata, akhir-akhir inipun kita lihat dan kita dengar banyak yang diusap oleh Dajjal, kenapa tiba-tiba berubah yang sembuh jadi sakit? Tentu yang terutama bukan sakit fisik, tetapi fii quluubuhim maradhun (pada hati-hati mereka tiba-tiba berkembang penyakit-penyakit kejiwaan).

Tetapi ketika datang Nabi yang terakhir, ternyata mu’jizatnya itu berbeda dengan mu’jizat-mu’jizat yang sebelumnya. Pada masa ini, ketika masa keilmuan manusia bertambah maju, apakah yang berhubungan dengan ilmu bahasa terutama pada saat itu, ataupun ilmu-ilmu yang lainnya. Maka mu’jizat Nabi terakhir adanya pada al-Qur’an.

Pada al-Qur’an banyak masalah-masalah, makanya jangan heran apabila di dalam al-Qur’an banyak kajian-kajian tertentu oleh orang-orang tertentu dengan motif dan motifasi yang tertentu pula, apakah dengan motifasi yang positif atau motifasi yang negatif. Jangan heran, apabila pada suatu saat di satu perguruan tinggi Islam ada Dosen Besar pembimbing S2 yang mengajarkan Ilmu Tafsir, tetapi dia bukan orang Muslim, dia adalah orang-orang Nashrani yang mempelajari Ilmu Tafsir dan membimbing para mahasiswa Muslim. Inikan suatu kemusykilan, ada apa? Dan inilah barangkali yang digambarkan oleh Rasulullah SAW, fayata’allamuhul-munafiquuna (nanti pada suatu saat al-qur’an akan dipelajari oleh orang-orang munafiq), tetapi dengan satu catatan, fayujaadiluuna bihil-mu’miniin (mereka dengan satu tujuan adalah untuk membantah orang-orang iman). Makanya jangan heran banyak orang-orang Islam termasuk orang-orang yang berilmu berubah aqidahnya, berubah keyakinannya hanya dengan ayat-ayat al-Qur’an tertentu.

Kita perhatikan ketika pada saat orang mendambakan ilmu bahasa, datang al-Qur’an, ternyata orang-orang yang ahli bahasa pun mengakui. Ketika orang-orang Quraisy secara sembunyi-sembunyi mereka memperhatikan bacaan-bacaan al-Qur’an, mereka di hadapan orang-orang Quraisy dengan tegas menolaknya, tetapi di belakang, mereka akan mengakui sebetulnya apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. itu yakin bukan buatan Nabi Muhammad SAW. dan bukan buatan manusia biasa.

Ketika pada suatu saat ada seorang yang termasuk ahli bahasa dan diapun termasuk Kahin (paranormal), dia mendengar gunjingan orang banyak bahwa yang bernama Muhammad terkena penyakit yang aneh, penyakit langka dan luar biasa. Dia sengaja datang untuk mengobati Nabi Muhammad SAW., katanya, dia begitu sayang kepada cucu Abu Thalib keponakan Abdul Muththalib, karena dia anak yang baik. Kenapa dia terkena penyakit yang seperti ini? Biar saya yang akan menyembuhkannya. Rasulullah SAW tidak menjawab apa-apa, hanya membacakan al-hamdulillahi nasta’inuhu wa nastaghfiru wa na’uudzubillahi min syuruuri anfusina wa sayyiaati a’maalina man yahdihillah falaa mudhillalah wa man yudhlil falaa haadiyalah..., selesai beliau membacakan itu, Kahin tersebut berkata “coba ulangi lagi!”, diulangi lagi oleh Rasulullah SAW, Kahin tersebut berkata lagi “coba ulangi lagi!” sampai tiga kali. Tiba-tiba dia menyatakan asyhadu an laa ilaaha illal-lah wa asyhadu anna muhammadar-rasulullah, mustahil orang yang mempunyai penyakit seperti ini bisa mengungkapkan bahasa-bahasa yang begitu tinggi.

Umar ra. adalah salah seorang yang sering mengikuti kontes, kontes dalam menyusun bahasa yang setiap tahun diadakan di kota Makkah, dan pengikutnya bukan hanya orang Makkah. Menjadi satu kebanggan apabila yang berhasil dalam kontes itu, selama satu tahu diabadikan di dalam Ka’bah, sehingga setiap orang bisa membaca keindahan bahasa daripada syi’ir-syi’ir yang dibacakannya. Tetapi ketika pada suatu saat adik Umar ra. membacakan Qur’an Surat Thoha, hanya surat yang pendek, dengan kalimat-kalimat yang pendek, kenapa umar menyatakan, “ini bukan omongan manusia, kalau omangan maunisa akupun bisa daripada itu”. Ternyata umar sebagai ahli bahasa mengakuinya.

Dan sampai pada saat inipun masih ditantang oleh Allah SWT., wa in kuntum fi raibi mimmaa nazzalnaa ‘alaa ‘abdinaa... (silahkan jika kamu masih ragu-ragu tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami), fa-tu bi suuratin..., (datangkan satu ayat saja seperti yang ada dalam al-Qur’an), seandainya wad’uu syuhadaa-akum..., (bila perlu silahkan pembantu-pembantu ahli apapun datangkan oleh kalian). Tetapi kenyataannya sampai saat ini belum ada seorang ahli bahasa yang mampu mengimbanginya, termasuk orang arab sendiri. Bahkan sampai saat ini belum ada ahli bahasa yang mampu menterjemahkan bismillahirrahmaanirrahiim ke dalam bahasa apapun juga, dalam arti, tentu penerjemahan secara latterleg, secara harfiyah. Yang ada pada kita itu adalah merupakan penjabaran, merupakan penjelasan daripada bismillahirrahmaanirrahiim.

Mudah-mudahan bahwa mu’jizat-mu’jizat yang diberikan Allah SWT kepada para Nabi dan mu’jizat yang terakhir yang ada dalam al-Qur’an, mudah-mudahan itu adalah menjadi hudan lilmuttaqin (menjadi petunjuk bagi orang-orang bertaqwa).

* disarikan kembali oleh Ramdhan Setiansyah

Kamis, 22 Maret 2012

KHUTBAH JUM'AT : TIGA GOLONGAN DALAM MENYIKAPI AL-QUR’AN

Oleh : al-Ustadz KH. I. Shodikin*

Sebagaimana yang telah kita maklumi, bahwa menghadapi dan menyikapi satu masalah itu tergantung kepada persepsi masing-masing. Hal ini diungkapkan di dalam al-Qur’an, bahwa ketika al-Qur’an turun ternyata ada tiga macam sikap / cara menghadapi al-Qur’an, ketika dinyatakan ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ , pertama dinyatakan هُدَى لِلْمُتَّقِينَ , yang kedua الَّذِينَ كَفَرُوا , dan yang ketiga adalah وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَباليَوْمِ الأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ .

Dalam arti yang pertama, disikapi bukan oleh orang-orang yang iman, tetapi disikapi oleh orang-orang yang bertaqwa. Kenapa demikian? Ini menunjukkan bahwa orang yang beriman belum tentu bertaqwa, tetapi orang yang bertaqwa pasti beriman. Oleh karenanya, kenapa dinyatakan    هُدَى لِلْمُتَّقِينَ , bukan هُدَى لِلْمُؤْمِنِيْنَ . Apabila demikian, ada orang-orang mu’min yang tidak muttaqin, tetapi yang muttaqin pasti mu’minin. Barulah diterangkan sifat-sifat muttaqin :
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ 2 الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ  يُنْفِقُونَ 3 وَالَّذِينِ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلآخِرَةِ هُمْ يُوِقنُونَ 4 أُولَـئِكَ عَلَى هُدًى مِن رَبِّهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 5

Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa # (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka # Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat # Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Apabila demikian jelaslah, bahwa al-Muttaqun itulah al-Muflihun, bahwa al-Muflihun itu bukan al-Mu’minun, tetapi al-Muflihun adalah al-Muttaqun. Oleh karenanya kitapun sama-sama maklumi, apabila dalam berbagai ayat sering diungkapkan seperti yang yang berhubungan dengan bab shaum, yang diseru pada asalnya adalah يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا, tetapi pada akhirnya  لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ , bukan لَعَلَّكُمْ تُؤْمِنُونَ , bahwa harus ada peningkatan dari iman kepada ketaqwaan. Inilah yang dimaksud أُولَـئِكَ عَلَى هُدًى مِن رَبِّهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ , hidayah yang mana yang dimaksud?

Sungguh teristimewa manusia, ketika akan menghadapi dan menyikapi suatu perkara, mereka sudah terlebih dahulu dibekali oleh penciptannya. Ketika pada suatu saat sesuai dengan keberadaannya, menyikapi sesuatu cukup dengan insting, menghadapi sesuatu perkara cukup dengan alat belia, menghadapi sesuatu perkara cukup hanya dengan kekuatan akal, tetapi pada suatu saat menghadapi suatu perkara tidak cukup hanya dengan kemampuan akal, kemampuan berfikir, tetapi perlu kepada keterangan dari yang tahu kepada masalah-masalah ghaib. Makanya kenapa hidayah itu ada beberapa tingkatan, ada yang dimaksud dengan hidayatul ilham, hal ini adalah sama dengan hidayatul hawas hanya alat belia, pada seluruh hewanpun ada, akan tetapi manusia ada lebihnya, dibekali dengan hidayatul aqli­. Tetapi pada manusia tidak cukup hidayatul aqli, karena keterbatasan kemampuan menggunakan akal yang ada pada dirinya. Terlalu banyak perkara-perkara yang tidak bisa dicapai oleh akal, dalam hal inilah barangkali Allah menurunkan Rasul untuk menyampaikan sesuatu perkara yang kadang-kadang tidak terjangkau oleh akal, adalah yang dimaksud dengan hidayatud dilalah, yang lebih dikenal dengan hidayatud diin, tetapi hidayah diin-pun belum cukup, baru hanya sekedar sampai kepada iman. Barulah lengkap dan sempurna bila hidayah ini adalah mencapai yang disebut hidayatut taufiq, dan hidayah taufiq inilah yang dimaksud,
أُولَـئِكَ عَلَى هُدًى مِن رَبِّهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 5
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Ketika menerangkan dan menyikapi al-Qur’an, di mana diterangkan al-Muttaqun ada beberapa ayat, tetapi ketika menerangkan cara menyikapi yang kedua yaitu dari orang-orang kufur ayat ini cukup dua ayat,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ 6 خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةُُوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ 7
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman # Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Namun yang teristimewa ketika menerangkan orang yang ketiga, tiada lain adalah orang-orang yang nifaq, begitu panjang ayatnya, lebih panjang daripada menerangkan sifat-sifat orang yang taqwa. Hal ini menunjukkan meminta perhatian dan sikap waspada kepada orang-orang tertentu terhadap sikap dan prilaku orang-orang yang menghadapi al-Qur’an dengan cara begitu. Kenapa demikian? Barangkali inilah nanti yang diterangkan oleh Rasulullah SAW., bahwa yang membaca al-Qur’an pada suatu saat bukan hanya orang-orang taqwa dan beriman saja, wayaqr’ul qur’an tsalaatsatun (dan orang yang membaca al-Qur’an ada tiga kelompok); pertama yang mu’minun bihi, ada orang yang membaca qur’an sambil mengimani kepada isinya; yang kedua wal-kaafiru, orang kufurpun sewaktu-waktu membaca al-qur’an, tetapi tetap dia itu adalah kaafirun bihi (kufur kepada al-Qur’an); dan yang lebih berbahaya adalah yang ketiga, wal-munaafiqu wal-faajiru, dia membaca al-Qur’an tetapi dia membaca al-Qur’an bukan menolak, dia membaca al-Qur’an apalagi iman, tetapi yata’akkalu, dia hanya sekedar mempermainkan. Mereka mengatakan innamaa nahnu mustahzi’un, makanya jangan heran apabila pada suatu saat Rasul menyatakan bahwa orang-orang yang munafiq mereka membaca al-Qur’an yujaadiluuna bihil-mu’minin, untuk membantah kepada orang yang mengimani al-Qur’an, hal ini terbukti sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah bahwa suatu saat akan sampai, dan kita alami. Sehingga mereka mengaku islam, bahkan terlebih dari pada itu mereka mengaku Rasul Allah, tetapi anehnya mereka menyatakan shalat itu tidak wajib, shaum itu tidak wajib, zakat itu tidak wajib. Inilah yang digambarkan oleh Rasulullah, dan justru mereka mengemukakan hal itu menggunakan ayat-ayat al-Qur’an, fayujaadiluuna bihil-mu’minin.

Apabila halnya demikian, maka tidak mustahil pada suatu saat hal-hal yang seperti ini ternyata sudah dekat kepada kita, sudah kita alami, dan Rasul menggambarkan “tidak akan terjadi kiamat, kecuali akan bermunculan orang-orang yang mengaku nabi tidak kurang jumlahnya hingga mencapai 30 orang”, dan inilah yang dikatakan oleh Rasulullah, sebagiannya sudah terbukti pada saat ini.

Baarakallaahu...

Ketika ada beberapa orang yang melaksanakan ketentuan dan perintah Allah, mereka melakukan yang sama, akan tetapi ternyata akibatnya tidak sama. Mereka berkurban dengan beda jenis kurbannya. Yang satu diterima dan yang satu ditolak, padahal yang ditolak secara fisiknya ternyata lebih dari yang diterima. Ketika ditolak, orang yang melakukan kurban yang fisiknya lebih besar dan lebih baik, menyatakan : “kenapa kurban saya tidak diterima, padahal kurban kamu nilainya lebih rendah, lebih sedikit daripada yang aku keluarkan?”, maka orang itu menjawab “innamaa yataqabbalullahu minal-muttaqiin (hanyasaja Allah akan menerima segala pengurbanan itu dari orang-orang yang taqwa)”, bukan dari orang-orang yang beriman, tetapi minal-muttaqiin (daripada orang-orang yang taqwa).

Apabila demikian halnya, sejauh mana kita bisa mencapai derajat taqwa? Tiada lain, tentu pada asalnya adalah seperti yaa ayyuhalladziina aamanuu, kita dasari dengan iman, kita tingkatkan nilai keimanan, dan nilai keimanan inilah yang akan mencapai derajat taqwa. Orang yang taqwa pasti iman, orang yang iman belum tentu taqwa. Maka di antara mencapai derajat taqwa adalah al-ilmu dan al-‘amalu yang sesuai dengan dasar keyakinan yang ada pada diri kita masing-masing. Insya Allah dengan cara yang seperti itulah pada suatu saat kita akan bertaqwa, apakah shalat, shaum, zakat dan lain-lainnya akan termasuk kepada tingkatan al-Muttaquun.

* disarikan kembali oleh Ramdhan Setiansyah

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More